Manfaat Tahajud Bagi Psikologis Kita

11046740_664434047018730_4278802220792551354_n

Selepas tengah malam, alam mulai bersinar kembali dengan warna putih, merah jambu dan seterusnya ungu di mana hal ini bersamaan dengan frekuensi kelenjar pineal, pituitari, talamus dan hipotalamus. Tubuh sepatutnya bangkit kembali pada waktu ini dan dalam Islam waktu ini dipanggil untuk qiyamullail.

Demikianlah ringkas hubungan antara waktu shlat dengan warna alam. Manusia sebaiknya sadar akan pentingnya tenaga alam. Faktor-faktor inilah yang mendasar kegiatan  meditasi seperti taichi, qi-gong dan sebagainya.  Kegiatan meditasi ini dilakukan untuk  menyerap tenaga-tenaga alam ke sistem tubuh. Kita sebagai umat Islam sepatutnya bersyukur karena telah di’karuniakan’ syariat shalat oleh Allah s.w.t sehingga jika laksanakan sesuai aturan maka secara tak sadar kita telah menyerap tenaga alam ini. Ini mungkin belum pernah terfikir oleh kita sebelumnya.

Inilah hakikat mengapa Allah swt yang memiliki sifat pengasih dan penyayang mewajibkan shalat kepada kita sebagai hambaNYA. Sebagai Pencipta Allah swt mengetahui bahwa hambaNYA amat sangat memerlukan-Nya. Alangkah ruginya jika kita tidak mengambil perhatian dan tidak peduli dalam  dalam menjaga shalat kita.

Advertisements

Rahasia Sholat di Awal Waktu

11037634_664434097018725_7181066736134108931_n

Berikut ini adalah terjemahkan riwayat yang dibawakan oleh Imam Muslim tersebut. Ia berkata. Dari Abu Bakr bin Abi Syaibah, dari ‘Ali bin Mus-hir dari asy-Syaibani, dari al-Walid bin al-‘Aizar, dari Sa’ad bin ‘Iyas Abu ‘Amr asy-Syaibani, dari Abdullah bin Mas’ud.

Dia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Amal manakah yang lebih utama?”. Beliau menjawab, “Sholat pada waktunya.” Dia (Ibnu Mas’ud) berkata: Aku berkata: “Lalu apa?”. Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Dia [Ibnu Mas’ud] berkata: Aku berkata: “Lalu apa?”. Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah.” Tidaklah aku tinggalkan pertanyaanku untuk meminta tambahan -keterangan- kecuali karena aku kasihan kepada beliau. Continue reading

Tingkatan-tingkatan Istighfar

Ada beberapa tingkatan yang merupakan deretan inti dari istighfar. Sahl at-tusturi berkata “setiap hamba mesti merasakan Tuhan dalam setiap waktu dan tempat. Jika dia dapat merasakan-Nya, maka dia akan selalu sempurnakan kekurangan ibadah kepada-Nya.” Jika berbuat maksiat dia berkata: Ya Allah, tutupilah aibku ini. Ketika telah melakukan maksiat, dia berkata: Ya Allah, terimalah toubatku ini. Jika sudah bertobat dia berkata: Ya Allah, karuniakanlah keselamatan dari melakukan maksiat. Jika telah mengamalkan segala perintah-Nya, dia berkata: Ya Allah terimalah amalku ini.

Sahl at-tusturi pernah bertanya mengenai istighfar yang dapat menghapus dosa. Dia menjawab, “awal dari istighfar adalah istijaabah, kedua inaabah, ketiga tobat.” Istijaabah adalah perbuatan anggota tubuh. Inaabah adalah perbuatan hati. Tobat adalah menghadap kepada Allah dengan meninggalkan makhluk kemudian meminta ampunan-nya dari kelalaian dan kebodohan untuk bersyukur. Jika ketiga hal diatas dilakukan, maka Allah SWT akan mengampuni pelaku dosa. Dia menjadi tempat kembalinya. At-tsuri menambahkan: “ketenangan akan terancap dalam hati sanubari hamba jika di iringi dengan ilmu, zikir, ridha dan tawakal kepada Allah SWT.”

Istighfar tidak cukup dengan kata-kata, namun istighfar dengan hati yang tulus ikhlas dan takut kepada Allah SWT atas dosa-dosanya. Terkadang dua amal perbuatan bisa sama, namun dihadapan Allah ganjaran atau pahalanya berbeda. Dua orang laki-laki bisa sama berada dalam satu shaf barisan sholat, namun kekhusyukannya dalam sholat berbeda.

Continue reading

Istiqamah

Secara etimologis, istiqomah berasal dari kata istaqamah-yastaqimu, yang berarti tegak lurus. Dalam kamus besar Indonesia , istilah istiqamah di artikan sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Dalam terminology akhlaq, istiqamah adalah sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan. Seorang yang istiqamah adalah laksana batu karang di tengah-tengah lautan yang tidak bergeser sedikitpun walaupun di pukul oleh gelombang yang bergulung-gulung.

Dieiwayatkan bahwa seorang sahabat yang bernama sufyan ibn Abdillah meminta rasulullah saw supaya mengajarkan padanya intisari ajaran agama islam dalam sebuah kalimat yang singkat, pdat dan menyeluruh, sehingga dia tak perlu menanyakan lagi kepada siapapun di masa yang akan dating. Memenuhi permintaan sahabatnya tersebut, Rasulullah bersabda:

“Katakanlah: Saya beriman kepada Allah ,kemudian Istiqamahlah”(HR. Muslim)

Iman yang sempurna ialah iman yang mencakup 3 dimensi:

  1. Hati
  2. Lisan
  3. Amal perbuatan

Orang beriman haruslah istiqamah dalam ketiga dimensi tersebut. Dia akan selalu menjaga kesucian hatinya, kebenaran perkataannya dan kesusuaian perbuatannya dengan ajaran islam. Ibrat jalan, seorang yang istiqamah akan selau mengikuti jalan yang lurud dan jalan yang paling cepat mengantarkan ke tujuannya.

Ujian Keimanan

Ujian keimanan itu tidak selamanya dalam bentuk yang tidak menyenangkan, tapi juga dalam bentuk yang menyenangkan. Keberhasilan bisnis juga ujian seperti kebangkrutan. Pujian juga ujian, celaan juga ujian. Seorang mukmin yang istiqamah akan selalu tetap teguh dengan keimanannya menghadapi 2 macam cobaan. Dia tidak mundur olah ancaman, siksaan, segala macam hambatan lainnya.

Rasulullah SAW adalah contoh teladan yang utama dalam istiqamah. Baik dalam siksaan, ancaman, celaan maupun dengan bujukan. Beliau tidak bergeser sedikitpun dari jalan Allah. Ingatlah betapa tegasnya jawaban nabi terhadap bujukan pemuda quraisy:”paman, demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, dengan maksut suapaya aku meninggalkan tugas dakwah ini, sungguh tidak akan aku tinggalkan. Biar nanti Allah yang akan membuktikan kemangan di tangaku, atau kau akan binasa karena-Nya”.

Dalam ayat QS Fushilat ayat 30-32, bahwa di dalam ayat  tersebut di jelaskan bahwa orang yang beristiqamah akan mendapatkan beberapa hikmah atau buah kebaikan, antara lain:

  1. Dijauhkan oleh Allah dari rasa takut dan sedih yang berlarut-larut atau negative baik dalam masa depan maupun masa lalu.
  2. Akan mendapatkan kesuksesan dalam kehidupannya di dunia, karena dia akan di lindungi oleh Allha SWT.